Peluncuran Aplikasi WorldRef- Mulai Monetisasikan Jaringan Profesional Anda

Apa yang ada di Aplikasi?

Tenaga Surya Bisa Jadi Andalan Indonesia untuk Penyediaan Listrik Untuk Daerah Terpencil – Begini Caranya

IndonesiaEnergi terbarukanEnergi matahariKeberlanjutan

Berbagi adalah peduli

Oktober 4th, 2021

Semua yang perlu Anda ketahui tentang rencana energi surya Indonesia untuk menyediakan listrik untuk daerah terpencil. Apa saja tantangan dan solusi untuk memanfaatkan peluang dari sinar matahari yang melimpah?

 

By Budi Prayogo Sunariyanto

Peneliti Purnomo Yusgiantoro Center

serta Vivi Fitriyani

Asisten Peneliti, Purnomo Yusgiantoro Center


 

Penggunaan fotovoltaik atau panel surya yang mengubah sinar matahari menjadi listrik berkembang pesat keliling dunia karena menjadi lebih terjangkau.

 

Di Indonesia, biaya sistem panel surya memiliki turun 90% menjadi sekitar Rp 13 juta hingga Rp 18 juta per kWp (kilowatt peak).

 

Indonesia harus memanfaatkan peluang ini dan memprioritaskan penggelaran sistem tenaga surya di berbagai daerah, terutama di terkemuka, terpencil dan tertinggal (3T)area.

 

Penelitian menunjukkan pendekatan ini dapat secara signifikan meningkatkan mata pencaharian dan kegiatan ekonomi di wilayah tersebut.

 

Petani memeriksa buah naga di taman yang diterangi lampu di Purwoharjo, Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (08/29/2021)

 

Akses energi di daerah terpencil

 

Kapasitas tenaga surya Indonesia telah tumbuh sebesar 250% dalam lima tahun terakhir. Dari 43.1 megawatt (MW) pada tahun 2016, kapasitasnya sekarang mencapai 153.5 MW pada tahun 2020. Pemerintah bahkan berencana untuk meningkatkan kapasitas ini 14 kali lipat menjadi 2.14 gigawatt (GW) pada tahun 2030.

 

Di sisi lain, pada tahun 2020, lima provinsi di Indonesia telah tarif elektrifikasi (penyaluran tenaga listrik) kurang dari 95%, yaitu Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara Timur.

 

Pemerintah harus mempertimbangkan bahwa pembangkit listrik tenaga surya tidak hanya merupakan sarana utama untuk mempercepat transisi energi ke energi terbarukan, tetapi juga solusi untuk memastikan akses listrik di semua wilayah – termasuk wilayah 3T.

 

Sejak 2017, pemerintah sendiri memiliki didistribusikan lampu surya hemat energi(LTSE)ke berbagai daerah untuk meningkatkan laju elektrifikasi nasional.

 

Namun, LTSHE ini saja menyediakan pencahayaan terbatas hingga 6-8 jam sehari.

 

Upaya elektrifikasi seharusnya tidak hanya fokus pada penyediaan penerangan, tetapi juga memastikan masyarakat dapat mengandalkan listrik untuk berbagai kegiatan produktif, termasuk pendidikan dan pertanian.

 

Manfaatkan peluang dari sinar matahari yang melimpah

 

Indonesia memiliki intensitas penyinaran – atau jumlah energi yang berpotensi diterima oleh suatu luasan sinar matahari – yang bervariasi dari 3.6 kWh hingga 6 kWh per meter persegi per hari.

 

Sinar matahari yang cukup membuat pembangkit energi surya cocok untuk area yang tidak terhubung ke jaringan listrik, atau area di mana koneksi ke jaringan listrik mahal dan tidak praktis.

 

Berbeda dengan daerah perkotaan yang akses listriknya sudah baik, panel surya dapat memberikan dampak yang sangat signifikan bagi masyarakat di daerah 3T.

 

Di negara-negara seperti Nepal dan India, di luar jaringan elektrifikasi (di luar jaringan listrik nasional) melalui penggunaan panel surya bahkan mengurangi emisi karbon karena penggunaan minyak tanah menjadi berkurang. Praktik tersebut juga telah meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak dan pendapatan masyarakat lokal di negara tersebut.

 

Apa tantangan elektrifikasi tenaga surya?

 

Namun, ada beberapa tantangan dalam menyediakan tenaga surya di daerah terpencil.

 

Sebagai permulaan, di luar jaringan sistem tenaga surya membutuhkan teknologi yang lebih rumit daripada di jaringan sistem (terhubung ke jaringan nasional). Sebagai contoh, di luar jaringan sistem membutuhkan baterai untuk menyimpan energi dan juga membutuhkan Inverter yang mengubah listrik dari baterai untuk digunakan dalam peralatan rumah tangga.

 

Peralatan tambahan ini membuat biaya di luar jaringan sistem lebih mahal, yaitu dua atau tiga kali lipat dari di jaringan, yang dapat membuatnya tidak menarik bagi investor.

 

Baterai dan teknologi ini juga memerlukan pemeliharaan, pemantauan, evaluasi, dan akhirnya penggantian, yang dapat menjadi tantangan bagi masyarakat setempat.

 

Apa solusinya?

 

Ada beberapa opsi untuk mengatasi masalah di atas.

 

Beberapa contoh termasuk kombinasi insentif fiskal dan non-fiskal dari pemerintah, keterlibatan masyarakat yang lebih baik, dan pengembangan masyarakat jangka panjang – tidak hanya melalui program penyediaan.

 

Pertama, pemerintah dapat memperkenalkan program yang berfokus pada 3D – dekarbonisasi, desentralisasi, dan digitalisasi – misalnya dengan peningkatan kapasitas dari BUMDes Bersama_ untuk mengelola dengan lebih baik di luar jaringan sistem. Setelah itu, pemerintah dapat mengangkat kepala daerah yang efektif sebagai koordinator.

 

Hal-hal tersebut dapat dilakukan bersamaan dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi lokal.

 

Berbagai skema pembiayaan juga dapat digunakan untuk menjamin keberlanjutan program energi surya di kawasan 3T. Contohnya termasuk keuangan campuran (menggalang dana dari sumber pemerintah dan swasta) dan crowdfunding.

 

Otoritas Penanaman Modal Indonesia (OJK) mengatakan akan memprioritaskan energi terbarukan di baru-baru ini didirikan Dana Kekayaan Negara (SWF). Ini adalah kesempatan besar bagi SWF untuk lebih fokus pada pengembangan energi di daerah terpencil.

 

Namun, program-program tersebut juga harus memperhatikan kemauan dan kemampuan membayar.

 

Di sini, penggunaan bayaran seperti kamu pergi skema (bayar sesuai penggunaan), atau skema lain seperti melalui Sinari Generasi Indonesia platform perdagangan pertanian di mana orang dapat membayar tagihan listrik tenaga surya dengan produk pertanian, bisa menjadi jalan keluar.

 

Kedua, pemerintah perlu mempertimbangkan penggunaan tenaga surya di berbagai sektor industri kecil yang biasanya tidak banyak menggunakan listrik.

 

Hal ini dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi sistem pembayaran di seluruh sektor tersebut – terutama pada bisnis berbasis komoditas seperti pertanian, perikanan, kerajinan, dan usaha kecil lainnya.

 

Ketiga, pelaksanaan jaringan mikro pintar  – sistem kelistrikan yang dilengkapi meteran otomatis – dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyediaan listrik.

 

Di sini, mereka bisa menjadi konsumen listrik sekaligus menjadi produsen dengan menjual listrik yang dihasilkan dari panel surya yang mereka miliki.

 

Keempat, pemerintah dapat memberikan insentif untuk mendukung pengembangan manufaktur panel surya di dalam negeri.

 

Hal ini dapat berupa pajak yang lebih rendah untuk produsen, sehingga dapat mengurangi biaya sekaligus meningkatkan kualitas panel surya yang diproduksi secara lokal.

 

Terakhir, pemerintah harus mempercepat digitalisasi peta dan batas wilayah di kawasan 3T.

 

Penggambaran batas yang jelas akan meminimalkan potensi konflik lahan di wilayah tersebut. Hal ini sangat penting di masa depan karena pembangunan pembangkit listrik tenaga surya skala besar menjadi lebih umum.

 

Jika tantangan tersebut dapat diatasi, maka energi surya dapat menjadi andalan Indonesia untuk memasok listrik ke daerah-daerah terpencil. Hal ini akan meningkatkan produktivitas masyarakat sekaligus mendukung pencapaian target pemerintah 23% energi terbarukan dalam bauran listrik pada tahun 2025.

 

Artikel ini awalnya diterbitkan oleh Percakapan, pada 04 September 2021, di Basaha, Indonesia dan telah diterbitkan ulang sesuai dengan Lisensi Publik Internasional Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0. Anda bisa membaca artikel aslinya disini. Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah dari penulis sendiri dan bukan dari WorldRef.


 

Jelajahi layanan WorldRef untuk mempelajari bagaimana kami membuat operasi bisnis global Anda lebih mudah dan ekonomis!

Layanan untuk Penjual  |  Layanan untuk Pembeli  |  Sumber Industri Gratis   |  Layanan Tenaga Kerja  |  Solusi Industri  |  Penambangan & Pengolahan Mineral  |  Sistem Penanganan Material  |  Solusi Pembangkit Listrik  |  Solusi Listrik Terbarukan dengan Pembiayaan